PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Perkembangan
pesat teknologi informasi menyebabkan bertambahnya permintaan suatu
sistem, baik berupa perangkat keras maupun perangkat lunak yang dapat
digunakan dengan baik dan cepat.
Permintaan
yang terus bertambah ini tidak sebanding dengan kemampuan perangkat
keras yang ada. Salah satu cara untuk mengatasi hal itu dibuat
pengembangan di sisi perangkat lunak dengan membuat suatu sistem
virtual di mana beberapa perangkat keras atau komputer dihubungkan
dalam jaringan dan diatur oleh sebuah sistem operasi yang mengatur
seluruh proses yang ada pada setiap komputer tersebut sehingga
memungkinkan proses berjalan dengan cepat. Sistem operasi yang
mengatur proses ini sering disebut sebagai sistem operasi
terdistribusi (distributed operating system) .
Sistem
operasi terdistribusi ini sekarang menjadi trend, terutama untuk
research yang kadang membutuhkan CPU yang sangat cepat untuk
melakukan perhitungan yang sangat kompleks. Dalam makalah ini akan
dibahas mengenai sistem operasi terdistribusi, terutama untuk
mengetahui apa dan bagaimana cara sistem ini bekerja.
Apakah
yang Dimaksud Dengan Sistem Operasi Terdistribusi?
Sistem
operasi terdistribusi adalah salah satu implementasi dari sistem
terdistribusi, di mana sekumpulan komputer dan prosesor yang
heterogen terhubung dalam suatu jaringan. Koleksi-koleksi dari
objek-objek ini secara tertutup bekerja secara bersama-sama untuk
melakukan suatu tugas atau pekerjaan tertentu. Tujuan utamanya adalah
untuk memberikan hasil secara lebih, terutama dalam:
- file system
- name space
- waktu pengolahan
- keamanan
- akses ke seluruh resources, seperti prosesor, memori, penyimpanan sekunder, dan perangkat keras.
Sistem
Operasi Terdistribusi Versus Sistem Operasi Jaringan
Suatu
sistem operasi terdistribusi yang sejati adalah yang berjalan pada
beberapa buah mesin, yang tidak melakukan sharing memori, tetapi
terlihat bagi user sebagai satu buah komputer single. Pengguna tidak
perlu memikirkan keberadaan perangkat keras yang ada, seperti
prosesor. Contoh dari sistem seperti ini adalah Amoeba.
Sistem
operasi terdistribusi berbeda dengan sistem operasi jaringan. Untuk
dapat membedakannya, sistem operasi jaringan memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
- Tiap komputer memiliki sistem operasi sendiri
- Tiap personal komputer memiliki sistem file sendiri, di mana data-data disimpan c. Sistem operasi tiap komputer dapat berbeda-beda atau heterogen
- Pengguna harus memikirkan keberadaan komputer lain yang terhubung, dan harus mengakses, biasanya menggunakan remote login (telnet)
- File system dapat digunakan dengan dukungan NFS Contoh dari sistem ini adalah UNIX dan LINUX Server.
Skema
Network Operating System
MANFAAT
DAN KEUNGGULAN SISTEM OPERASI TERDISTRIBUSI
Sistem
operasi terdistribusi memiliki manfaat dalam banyak sistem dan dunia
komputasi yang luas. Manfaat-manfaat ini termasuk dalam sharing
resource, waktu komputasi, reliabilitas, dan komunikasi (Silverschatz
Galvin, 1998 hal. 17).
Shared
Resource
Walaupun
perangkat sekarang sudah memiliki kemampuan yang cepat dalam
proses-proses komputasi, atau misal dalam mengakses data, tetapi
pengguna masih saja menginginkan sistem berjalan dengan lebih cepat.
Apabila hardware terbatas, kecepatan yang diinginkan user dapat
diatasi dengan menggabung perangkat yang ada dengan sistem DOS
(Distributed Operating System).
Manfaat
Komputasi
Salah
satu keunggulan sistem operasi terdistribusi ini adalah bahwa
komputasi berjalan dalam keadaan pararel. Proses komputasi ini
dipecah dalam banyak titik (nodes), yang mungkin berupa komputer
pribadi, prosesor tersendiri, dan kemungkinan perangkat
prosesor-prosesor yang lain. Sistem operasi terdistribusi ini bekerja
baik dalam memecah komputasi ini dan baik pula dalam mengambil
kembali hasil komputasi dari titik-titik cluster untuk ditampilkan
hasilnya.
Reliabilitas
Fitur
unik yang dimiliki oleh DOS ini adalah reliabilitas. Berdasarkan
design dan implementasi dari design sistem ini, maka hilangnya suatu
node tidak akan berdampak terhadap integritas system. Hal ini berbeda
dengan komputer personal, apabila ada salah satu hardware yang
mengalami kerusakan, maka system akan berjalan tidak seimbang, bahkan
sistem bisa tidak dapat berjalan atau mati.
Dalam
sistem operasi terdistribusi tadi sebenarnya cara kerjanya mirip
dengan personal computer, tetapi bedanya apabila ada node yang mati,
maka akan terjadi proses halt terhadap node tersebut dan proses
komputasi dapat dialihkan. Hal ini akan membuat sistem DOS selalu
memiliki reliabilitas yang tinggi.
Komunikasi
Sistem
operasi terdistribusi biasanya berjalan dalam jaringan, dan biasanya
melayani koneksi jaringan. Sistem ini biasanya digunakan user untuk
proses networking. User dapat saling bertukar data, atau saling
berkomunikasi
antar titik baik secara LAN maupun WAN.
Aplikasi sistem operasi
terdistribusi berbasis Linux.
HARDWARE
SISTEM OPERASI TERDISTRIBUSI
Sistem
operasi terdistribusi, yang saat ini akan dibahas sebagai titik tolak
adalah Amoeba, yang saat ini banyak digunakan sebagai salah satu
implementasi dari sistem operasi terdistribusi itu sendiri. Sistem
Amoeba ini tumbuh dari bawah hingga akhirnya tumbuh menjadi sistem
operasi terdistribusi.
Design Sistem Operasi
Amoeba
Sistem
operasi terdistribusi pada umumnya memerlukan hardware secara
spesifik. Komponen utama dalam sistem ini adalah : workstation, LAN,
gateway, dan processor pool, seperti yang diilustrasikan pada gambar
di atas.
Workstation
atau komputer personal mengeksekusi proses yang memerlukan interaksi
dari user seperti text editor atau manager berbasis window. Server
khusus memiliki fungsi untuk melakukan tugas yang spesifik. Server
ini mengambil alih proses yang memerlukan I/O yang khusus dari
larikan disk. Gateway berfungsi untuk mengambil alih tugas untuk
terhubung ke jaringan WAN.
Procesor
pool mengambil alih semua proses yang lain. Tiap unit ini biasanya
terdiri dari prosesor, memori lokal, dan koneksi jaringan. Tiap
prosesor mengerjakan satu buah proses sampai prosesor yang tidak
digunakan habis. Untuk selanjutnya proses yang lain berada dalam
antrian menunggu proses yang lain selesai. Inilah keunggulan sistem
operasi terdistribusi dalam hal reliabilitas. Apabila ada satu unit
pemroses yang mati, maka proses yang dialokasikan harus di restart,
tetapi integritas sistem tidak akan terganggu, apabila proses deteksi
berjalan dengan baik. Desain sistem ini memungkinkan untuk 10 sampai
100 prosesor.
Spesifikasi
perangkat keras yang harus disediakan pada tiap cluster minimalnya
adalah :
File
server: 16 MB RAM, 300MB HD, Ethernet card. Workstation: 8 MB RAM,
monitor, keyboard, mouse Pool processor: 4 MB RAM, 3.5” floppy
drive
ARSITEKTUR
SOFTWARE
Sistem
operasi terdistribusi sejati memiliki arsiitektur software yang
unik. Arsitektur software ini dikarakterkan dalam objek di dalam
hubungan antara klien dan server. Proses-proses yang terjadi di klien
menggunakan remote procedure yang memanggil dan mengirimkan request
ke server untuk memproses data atau objek yang dibawa. Tiap objek
yang dibawa memiliki karakteristik yang disebut sebagai kapabilitas.
Kapabilitas
ini besarnya adalah 128 bits. 48 bits pertama menunjukkan servis mana
yang memiliki objek tersebut. 24 bits berikutnya adalah nomor dari
objek. 8 bits berikutnya menampilkan operasi yang diijinkan terhadap
objek yang bersangkutan. Dan 48 bits terakhir merupakan “check
field” yang merupakan field yang telah terenkripsi agar tidak
dapat dimodifikasi oleh proses yang lain.
Operasi
diselesaikan oleh RPC (remote procedure calls) yang dibuat oleh klien
di dalam proses yang kecil dan ringan. Proses dengan tipe seperti ini
memiliki bidang alamat sendiri, dan bisa saja memiliki satu atau
lebih hubungan. Hubungan ini ketika berjalan memiliki program counter
dan stack sendiri, tetapi dapat saling berbagi kode dan data antara
hubungan lain di dalam proses. Ada 3 macam basis panggilan sistem
yang dapat digunakan dalam proses yang dimiliki user, yaitu
do_operation, get_request, dan send_reply.
Bagian
yang pertama mengirimkan pesan ke server, setelah proses memblok
sampai server mengirimkan balasan. Server menggunakan panggilan
sistem ke dua untuk mengindikasikan bahwa server akan menerima pesan
pada port tertentu. Server juga menggunakan panggilan sistem ke tiga
untuk mengirimkan kembali informasi ke proses yang dipanggil.
Dengan
dibangun dari perintah sistem yang primitif, maka sistem ini menjadi
antarmuka untuk program aplikasi. Hal ini diselesaikan oleh tingkat
dari pengarahan yang mengijinkan pengguna untuk berfikir terhadap
struktur ini sebagai objek dan operasi-operasi terhadap objek ini.
Berhubungan
dengan objek-objek adalah class. Kelas dapat berisi kelas yang lain
dan juga hierarki secara alami. Pewarisan membuat antarmuka objek
untuk implementasi manipulasi objek seperti menghapus, membaca,
menulis, dan sebagainya.
MANAJEMEN
SISTEM
Manajemen
Berkas
Dalam
sistem operasi terdistribusi ini sistem berkas dipetakan dengan baik
dengan berorientasi pada objek yang ada dan kapabilitasnya. Hal ini
akan menjadi berkesan abstrak, terutama untuk kelas pengguna. Ada
tingkatan yang lebih ekstra dalam pemetaan berkas yang ada, mulai
dari simbol, pengurutan nama path, dan kapabilitasnya. Melalui sistem
ini objek lokal tidak ada bedanya dengan objek publik.
Dalam
sistem ini ada semacan tingkatan akses yang sebenarnya mirip UNIX.
Setiap user dan group memiliki hak akses yang berbeda-beda pada
setiap berkas atau folder yang ada pada sistem operasi terdistribusi.
Dalam
implementasi sistem Amoeba, terutama di negeri Belanda, hak akses
yang dimiliki pengguna terbatas pada hak baca file, tulis/membuat
file, dan hapus file. Dengan hal ini, maka keamanan server dapat
terjaga.
Pelayanan
terhadap direktori yang ada dibuat sangat ketat dalam hal keamanan.
Bahkan dibuat semacan kode acak yang akan menyandikan file tersebut
sehingga tidak mudah dibaca oleh siapapun. Kode penyandinya akan
digunakan lagi oleh sistem untuk mengembalikan file seperti semula
kepada user. Kode ini hanya akan diberikan kepada pemilik file
tersebut. Jadi ketika user mengakses file/berkas yang bersangkutan,
maka kode penyandi akan dibuat oleh sistem, agar pemilik file dapat
membacanya.
Pelayanan
direktori ini juga bertanggungjawab dalam hal backup sistem. Hal ini
akan menyebabkan file selalu berada dalam keadaan yang aman, dan
lebih kebal tehadap gangguan yang terjadi di dalam sistem, karena
pelayanan direktori ini menyimpan cache dari file atau direktori yang
berada pada sistem.
Manajemen
Proses
Dalam
sistem operasi terdistribusi yang sejati, tiap proses berada pada
alamat segmen-segmen virtual. Proses-proses ini dapat memiliki
lebih dari satu hubungan. Kaitan-kaitan ini dialokasikan ke
prosesor-prosesor sampai semua prosesor habis digunakan. Hasil dari
manajemen proses seperti ini menghasilkan utilisasi yang lebih baik,
di mana tidak perlu switch apabila harus ada proses yang berat,
karena satu proses dialokasikan ke satu prosesor. Sedangkan untuk
proses yang tidak kebagian tempat, maka akan masuk ke antrian.
Kaitan-kaitan proses ini menggunakan semaphore untuk menunjukkan
aktifitasnya (Tanenbaum hal. 1).
Masing-
masing proses memiliki kontrol sendiri pada spasi alamatnya.
Masing-masing proses dapat menambah atau menghapus segmen dari spasi
alamat virtualnya melalui operasi pemetaan. Objek seperti file yang
berisi kapabilitas, dan yang membaca adalah kernel, dan apabila
proses diijinkan, maka ia dapat memetakan atau menghapus pemetaan
segmen pada alamat virtualnya.
Untuk
membangun sebuah proses, maka pendekripsi proses mengirimkannya ke
kernel. Hal ini diketahui sebagai pengiriman request untuk proses.
Sebuah deskriptor proses dapat berisi deskriptor host, kapabilitas
proses, penanganan kapabilitas, dan juga jumlah segmen.
Deskriptor
host berisi proses ini memiliki jenis apa, dan dapat berjalan di
mana. Isinya adalah baris instruksi, kebutuhan memori, kelas mesin,
informasi, dan sebagainya. Kernel harus memiliki deskriptor host yang
sama untuk melanjutkan proses.
Kapabilitas
proses adalah memiliki tingkatan lebih tinggi dari proses, yang
mengatur apa yang dapat dilakukan oleh proses, atau proses ini hanya
dapat dilakukan oleh siapa. Pengatur kapabilitas mirip dengan hal
ini, tetapi hanya bekerja untuk proses yang tidak normal.
Alamat
proses terenkapsulasi di dalam peta memori internal. Peta ini meiliki
entri untuk setiap segmen dari alamat untuk proses yang potensial.
Entri berisi alamat virtual, panjang segmen, pemetaan segmen, dan
kapabilitas dari objek yang mengetahui dari mana objek tersebut
diinisialisasi.
Ada
juga kaitan pemetaan yang mendeskripsikan atribut yang lain, termasuk
di antaranya mendefinisikan inisial keadaan dari kaitan, status
prosesor, program counter, stack pointer, stack base, nilai register,
dan keadaan sistem pemanggil. Hal ini mengijinkan deskriptor untuk
digunakan di proses.
Proses
memiliki dua macam keadaan, yaitu proses sedang berjalan atau sedang
stunned. Stunned terjadi bila proses masih ada, tetapi tidak
melakukan eksekusi apapun, atau sedang dalam proses debug. Pada
keadaan ini kernel memberitahu komunikator (kernel yang lain) adanya
proses yang dalam keadaan stunned. Kernel yang lain tersebut berusaha
berkomunikasi dengan proses itu sampai proses di-kill atau proses
tersebut berjalan kembali. Debugging dan migrasi pada proses ini
selesai setelah adanya stunning.
JENIS
SISTEM OPERASI TERDISTRIBUSI
Ada
berbagai macam sistem operasi terdistribusi yang saat ini
beredar dan banyak digunakan.
Keanekaragaman
sistem ini dikarenakan semakin banyaknya sistem yang bersifat
opensource sehingga banyak yang membangun OS sendiri sesuai dengan
kebutuhan masing-masing, yang merupakan pengembangan dari OS
opensource yang sudah ada.
Beberapa
contoh dari sistem operasi terdistribusi ini diantaranya :
• Amoeba
(Vrije Universiteit)
Amoeba
adalah sistem berbasis mikro-kernel yang tangguh yang menjadikan
banyak workstation personal menjadi satu sistem terdistribusi secara
transparan. Sistem ini sudah banyak digunakan di kalangan akademik,
industri, dan pemerintah selama sekitar 5 tahun.
• Angel
(City University of London)
Angel
didesain sebagai sistem operasi terdistribusi yang pararel,
walaupun sekarang ditargetkan untuk PC dengan jaringan berkecepatan
tinggi. Model komputasi ini memiliki manfaal ganda, yaitu memiliki
biaya awal yang cukup murah dan juga biaya incremental yang rendah.
Dengan memproses titik-titik di jaringan sebagai mesin single yang
bersifat shared memory, menggunakan teknik distributed virtual shared
memory (DVSM), sistem ini ditujukan baik bagi yang ingin meningkatkan
performa dan menyediakan sistem yang portabel dan memiliki kegunaan
yang tinggi pada setiap platform aplikasi.
• Chorus
(Sun Microsystems)
CHORUS
merupakan keluarga dari sistem operasi berbasis mikro-kernel untuk
mengatasi kebutuhan komputasi terdistribusi tingkat tinggi di dalam
bidang telekomunikasi, internetworking, sistem tambahan, realtime,
sistem UNIX, supercomputing, dan kegunaan yang tinggi. Multiserver
CHORUS/MiX merupakan implementasi dari UNIX yang memberi kebebasan
untuk secara dinamis mengintegrasikan bagian-bagian dari fungsi
standar di UNIX dan juga service dan aplikasi-aplikasi di dalamnya.
• GLUnix
(University of California, Berkeley)
Sampai
saat ini, workstation dengan modem tidak memberikan hasil yang baik
untuk membuat eksekusi suatu sistem operasi terdistribusi dalam
lingkungan yang shared dengan aplikasi yang berurutan. Hasil dari
penelitian ini adalah untuk menempatkan resource untuk performa yang
lebih baik baik untuk aplikasi pararel maupun yang seri/berurutan.
Untuk merealisasikan hal ini, maka sistem operasi harus
menjadwalkan pencabangan dari program pararel, mengidentifikasi
idle resource di jaringan, mengijinkan migrasi proses untuk mendukung
keseimbangan loading, dan menghasilkan tumpuan untuk antar proses
komunikasi.
• GUIDE
Guide
(Grenoble Universities Integrated Distributed Environment) adalah
sistem operasi terdistribusi yang berorientasi obyek untuk
pempangunan dan operasi dari aplikasi terdistribusi pada PC atau
server dengan jaringan yang tersambung LAN. Guide adalah hasil
penggabungan Bull and the IMAG Research Institute (Universities of
Grenoble), yang telah membangun Bull-IMAG joint Research Laboratory.
Ini juga memiliki kaitan erat dengan COMANDOS Esprit Project
(Construction and Management of Distributed Open Systems) dan
BROADCAST Esprit Basic Research project.
• Hurricane
Sistem
operasi Hurricane memiliki hierarki sebagai sistem operasi dengan
cluster yang merupakan implementasi dari Hector multiprocessor.
Peng-cluster-an mengatur resource pada sistem, menggunakan pasangan
yang ketat antara cluster, dan kehilangan pasangan pada cluster.
Prinsip sistem terdistribusi diaplikasikan dengan mendistribusikan
dan mereplika servis pada sistem dan objek data untuk meningkatkan
kelokalan, meningkatkan konkurensi, dan untuk mencegah sistem
terpusat, sehingga membuat sistem berimbang.
• Mach
(Carnegie Mellon University)
Mach
adalah satu dari beberapa komunitas penelitian tentang sistem
operasi. Sistem ini aslinya dimulai di CMU, dan Mach menjadi basis
dari banyak sistem penelitian. Walaupun pekerjaan dengan Mach di CMU
sudah lama tidak diterapkan, tetapi masih banyak kelompok-kelompok
lain yang masih menggunakan Mach sebagai basis pada penelitiannya.
• Mach
at OSF (OSF Research Institute)
OSF
Research Institute masih menggunakan teknologi yang dimulai dari CMU
dan menggunakan ini sebagai basis dari banyak penelitian, termasuk
sistem operasi untuk mesin pararel , kernel berorientasi objek yang
aman, dan penelitian-penelitian tentang sistem operasi yang lain.
• Maruti
(University of Maryland) Group Members
Maruti
adalah sistem operasi berbasis waktu, yang merupakan proyek di
University of Maryland. Dengan Maruti 3.0, kita memasuki fase baru
pada proyek ini. Menurut mereka, mereka memiliki sistem operasi yang
lebih nyaman untuk kalangan yang lebih luas.
• Masix
(Blaise Pascal Institute MASI Laboratory)
Masix
adalah sistem operasi terdistribusi yang berbasis pada mikro kernel
dari Mach, yang saat ini di bawah pengembangan dari MASI Laboratory.
Tujuan utama dari sistem ini adalah untuk secara simultan
mengeksekusi banyak data aplikasi personal, yang berjalan baik baik
di semua platform, baik Unix, DOS, OS/2 dan Win32.
• MOSIX
(Hebrew University, Jerusalem, Israel)
Sebuah
solusi untuk masalah saat ini menjadi ada untuk lingkungan
multikomputer, yang disebut MOSIX. Mosix adalah pengembangan dari
UNIX, yang mengijinkan user untuk menggunakan resource yang ada tanpa
ada perubahan pada level aplikasi. Dengan penggunaan yang transparan,
algoritma proses migrasi dinamis, MOSIX melayani servis jaringan,
seperti NFS, TCP/IP, dari UNIX, untuk level proses, dengan
menggunakan penyeimbangan load dan distribusi dinamis pada
cluster-cluster yang homogen.
• Plan
9 (Bell Labs Computing Science Research Center)
Plan
9 adalah sistem operasi baru yang dibangun di Bell Labs. Ini adalah
sebuah sistem yang terdistribusi. Pada kebanyakan konfigurasi, ini
menggunakan tiga macam komponen : terminal yang ada pada meja
pengguna, server file yang menyimpan data permanen, dan server CPU
yang melayani CPU lainnya lebih cepat, authentikasi user, dan network
gateways. Salah satu kesemuan yang menarik dari Plan 9 adakah
pengiriman file yang esensial pada semua servis system.
• Puma
and relatives (Sandia National Laboratory)
Sistem
operasi Puma menargetkan aplikasi dengan performa tinggi yang
dipasangkan dengan arsitektur memory terdistribusi. Ini adalah
turunan dari SUNMOS.
Sistem
Operasi Tedistribusi Lainnya
Selain
sistem operasi-sistem operasi di atas, masih banyak lagi sistem
operasi terdistribusi yang dibangun, baik secara opensource maupun
yang ‘closed source’. Sistem-sistem itu diantaranya adalah
- Alpha Kernel (Carnegie Mellon University)
- QNX
- Spring Real-Time Project (University of Massachsetts, Amherst)
- Spring System (Sun)
- Sprite (University of California, Berkeley)
- Sting
- Sumo (Lancaster University)
- Tao Operating System (Ta o Systems)
- Tigger (Trinity College Dublin)
- TUNES
KESIMPULAN
Dalam
sistem operasi terdistribusi terjadi proses yang lebih rumit dari
sistem yang biasa, tetapi dapat menghasilkan suatu sistem dengan
performa dan kemampuan yang lebih.
Dari
uraian di atas telah banyak disinggung keunggulan-keunggulan dari
sistem operasi terdistribusi. Tetapi di samping keunggulan-keunggulan
yang ada sistem ini juga memiliki kelemahan yang banyak, diantaranya
adalah perawatan tiap cluster yang sangat sulit, selain itu juga
boros daya, karena harus menghidupkan banyak CPU, membutuhkan
jaringan berkecepatan tinggi.
Kelemahan-kelemahan
tersebut sebenarnya tidak seberapa jika dibandingkan dengan hasilnya.
Misalnya saja search engine paling ramai seperti Google™, yang
menggunakan teknologi ini, karena hardware yang paling canggih saat
ini masih belum mencukupi untuk menangani jutaan request ke server
Google tiap detiknya, sehingga mereka harus membuat sistem pararel
yang mampu melayani keperluan tersebut. Selain itu dalam dunia
research, juga diperlukan sistem ini, terutama untuk
melakukan perhitungan-perhitungan yang tentu saja sangat rumit dan
membutuhkan pemroses yang hebat dan cepat supaya dapat segera dicari
hasilnya.
REFERENSI
Hariyanto,
Bambang, Ir. Sistem Operasi, Bandung : Informatika, 1997
Tanenbaum,
Andrew S. The Amoeba Distributed Operating System
Gottlieb,
Allen. Distributed Operating System Lectures Notes Spring 1997-1998
Silverschatz
Galvin, Operating System Concepts, Addison-Wesley 1998
http://java.icmc.sc.usp.br/os2_course/
http://www.cs.arizona.edu/people/bridges/os/distributed.html
http://www.cs.vu.nl/~ast/books/mos2/sample1.pdf
http://people.msoe.edu/~sebern/courses/cs384/papers9899/fedke.pdf
http://www.cs.panam.edu/~meng/Course/CS6334/Note/master/
http://allan.ultra.nyu.edu/gotllieb/os
ftp://ftp.cse.ucse.edu
http://www.tu-chemnitz.de/mbv/TechnThDyn/mpf/Athlon_Cluster/cluster1.jpg
http://www.webstart.com/jed/papers/Managing-Domains/Figure-2b.gif
http://www.cs.vu.nl/pub/amoeba/
http://www.mosix.org
http://www.openmosix.org
http://www.google.com


